Berikut adalah hasil kajian Jalasah Ruhiyah DPC PKS Grogol Petamburan di Masjid Nurul Islam Jelambar Jakarta, yang dibawakan oleh Ustadzah Nurhayati. Semoga bermanfaat ^_^
Saat mengucapkan Insya Allah, kebanyakan kita akan menganggap ucapan yang disertai Insya Allah lemah, tidak kuat, dan cenderung untuk menghindari dari kewajiban atas apa yang kita ucapkan atau janjikan. Contohnya saat kita mengatakan “Insya Allah deh ana datang ke tempat antum”.
Padahal semestinya ketika kita mengucapkan ”Insya Allah” maka pada diri kita harus telah ada:
- 99% keyakinan
- optimisme tinggi
Karena itu, saat mengucapkan Insya Allah seharusnya dengan penuh keyakinan dan bukan untuk menghindari kewajiban atas apa yang telah diucapkan. Dan saat kita mengucapkan ”Insya Allah kita menang”, maka kita siap untuk menang dan berusaha maksimal untuk meraih kemenangan.
Keyakinan dan optimisme tinggi adalah bagian dari kemenangan. Allah akan menurunkan kemenangan jika manusia itu siap untuk menang. Tangan Allah akan bersama kumpulan orang-orang yang berada di jalan Allah.
Kemenangan yang hakiki adalah kemenangan atas diri sendiri dalam mengatasi segala kendala, hambatan internal, melawan diri dari segala bentuk ketidakberdayaan kita yang menghambat potensi diri. Contoh: kemalasan.
Do’a untuk mengindarkan diri dari ketidakberdayaan: ”Allahumma innii a’udzubika minal hammi walhazan, wa a’udzubika minal ’ajzi walkasal, wa a’udzubika minal jubni walbukhli, wa a’udzubika min gholabatiddaini wa qahrir rijaal” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih, aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan malas, aku berlindung kepadaMu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepadaMu dari lilitan utang dan tekanan orang lain) –HR. Abu Dawud (Al Matsurat)
QS. Al Hajj:77
”Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”
Dari surat tersebut, disimpulkan bahwa yang pertama harus dilakukan untuk meraih kemenangan adalah meningkatkan kekuatan ruhiyah, mengokohkan keimanan, mendekatkan diri kepada Sumber Kekuatan karena kemenangan di bawah kendali Allah. Dengan kekuatan ruhiya, kita akan bisa menembus segala kekuatan yang lainnya.
Contohnya bisa dilihat pada Perang Badar yang dikisahkan dalam QS. Al Anfal:65-66.
QS. Al Anfal:65
”Hai nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada 20 orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan 200 orang musuh. Dan jika ada 100 orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan 1.000 daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”
Dengan keimanan dan kesabaran, meskipun dengan pasukan 20 orang, akan mampu mengalahkan 200 orang musuh, dan dengan 100 orang dapat mengalahkan 1.000 orang kafir. Dengan keimanan dan kesabaran, hanya diperlukan 1:10 untuk melawan musuh.
QS. Al Anfal:66
”Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu 100 orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan 200 orang, dan jika di antaramu ada 1.000 orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan 2.000 orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”
Dalam posisi lemah sekalipun, 100 orang sabar akan mampu mengalahkan 200 orang, 1000 orang sabar akan bisa mengalahkan 2000 orang. Dengan kesabaran dan atas ijin Allah, hanya diperlukan 1:2 untuk melawan musuh.
Untuk meraih kemenangan, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi sesuai dengan QS. Al Anfal:45-47.
QS. Al Anfal:45
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.
QS. Al Anfal:46
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
QS. Al Anfal:47
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.
Sayyid Quthub dalam bukunya menyimpulkan ayat di atas dengan:
- tempuhlah berbagai sarana untuk dekat kepada sumber pertolongan (Allah)
- hindari hal-hal yang menjadi sebab kehancuran kaum kuffar
- jangan riya
- hindari maksiat
Dari ayat-ayat di atas bisa disimpulkan bahwa syarat untuk menang adalah sebagai berikut.
1. Berteguh hati (fatsbutu)
Mengokohkan tekad, mantapkan hati, meyakinkan jiwa untuk menghadapi semua persoalan. Keteguhan hati adalah faktor mentalitas yang tanpanya maka akan seperti ”kalah sebelum berperang”. Dengan keteguhan hati akan dapat mencapai elastisitas jiwa yang tinggi sehingga kita dapat menghadapi segala permasalahan/stressor yang datang.
Rasulullah sering kali memberi kabar gembira (bushrah) kepada para sahabat sebelum berjihad. Beliau berkata ”Ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah bayangan pedang”. Segala kelelahan akan berbuah surga Allah.
2. Perbanyak dzikir kepada Allah
Dengan memperbanyak dzikir akan membuat jiwa semakin mantap dan kokoh. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, ”Barang siapa yang mengingat Allah, maka Allah akan mengingatnya. Barang siapa yang lalai dalam mengingat Allah, maka Allah akan semakin mendekatkan mereka kepada musuh Allah”.
Manfaat dzikir
v membuat jiwa tenang
v membuka peluang-peluang kemudahan dari Allah
v menghindarkan amalan tercampur dengan kemaksiatan
Umar bin Khatab, RA mengatakan ”Yang aku takutkan bukanlah jumlah sarana, perbekalan, ataupun perlengkapan, melainkan kemaksiatan-kemaksiatan yang ada dalam hati-hati kalian”
Allah tidak akan memberikan kemenangan kepada hati-hati yang bermaksiat. Seperti yang terjadi pada Perang Uhud dimana pasukan Islam mengalami kekalahan karena pasukannya tidak lagi taat kepada Rasul dan hati-hati mereka dikuasai oleh nafsu untuk berlomba-lomba mengambil harta rampasan sehingga mereka meninggalkan posisi mereka sebagai pasukan pemanah di bukit Gunung Uhud.
v Menjalin hubungan dengan Yang Maha Kuat
v Mencapai tingkat kepercayaan yang totalitas kepada Allah sehingga akan memantapkan keyakinan kita bahwa apapun masalah yang dihadapi akan selalu ada jalan keluarnya.
3. Taat kepada Allah & RasulNya
Konsep dalam meraih kemenangan yaitu untuk meraih surga Allah dengan mentaati Allah dan RasulNya.
4. Hindari perpecahan
Hal yang menyebabkan perselisihan:
v keragaman intruksi dan arahan dari pimpinan yang berlainan/berlawanan
v hawa nafsu bermain dalam pandangan (niat tidak suci lagi)
Kita dituntut untuk ”sami’na wa ato’na” (kami dengar dan taat) pada pimpinan. Taat tidak saja pada waktu lapang, tetapi justru diuji pada saat-saat yang tidak menyenangkan dimana kita merasa sulit (waktu sulit dan sempit).
5. Sabar
Tidak ada batas dalam bersabar, bahkan Allah menyuruh kita untuk ”al sobru wal musobar” (sabar dan tingkatkan kesabaran). ”Allah bersama orang-orang sabar, dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”
Dengan bersabar akan dapat memunculkan kreatifitas. Jika tidak sabar maka akan muncul kondisi psikis ”mental blocking” dimana pikiran tertutup, ketidakmampuan berpikir jernih, pikiran tidak berkembang, tidak bisa menganalisa permasalahan.
6. Waspada dari riya & sombong
”Apabila ada sedikit saja kesombongan, maka akan menjauhkan orang tersebut dari mencium bau surga” (hadits).
Dari uraian di atas sesungguhnya kunci kemenangan adalah memberdayakan internal diri kita.
Wallahu alam bishawab